Sekolah Proses Pembodohan
Dalam ingatan kita masih
terngiang-ngiang sebuah ucapan yang pernah dilontarkan oleh ahli pendidikan
Brazilia yang kalau saya tidak salah menyebutnya Paulo Pierre, yang sempat
mengatakan bahwa "sekolah adalah proses pembodohan". Ketika
kita baca sepintas tanpa menganalisa lebih lanjut tentunya mengejutkan kita
karena berbeda dengan pendapat umum yang mengatakan bahwa sekolah merupakan
tempat belajar siswa bahkan tempat belajar calon pemimpin masa depan.
Namun, tentunya yang harus kita
analisa adalah sebuah proses, jikalau proses yang dilakukan di sekolah tersebut
sudah benar, maka disitulah terjadi transfer tiga ranah dalam dunia pendidikan,
dan tiga ranah ini harusnya menjadi satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisah,
ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Terlebih lagi pendidikan kita
sekarang dihadapkan oleh kondisi riil bangsa ini yang sudah dianggap mulai
terjadi degradasi moral, dan pendidikanlah ujung tombak untuk merubah nya.
Dalam tulisan ini saya ingin
mengajak sahabat-sahabat guru untuk introspeksi diri, terkait dengan tesis yang
dilakukan oleh Paulo. Paulo mengatakan bahwa sekolah adalah proses pembodohan
karena ia melihat ada beberapa kejanggalan dalam dunia pendidikan terlebih lagi
dalam proses pembelajaran.
Ketika dalam proses pembelajaran
seorang guru masih beranggapan bahwa siswa nya ibarat tong kosong artinya dalam
otak siswa masih kosong tidak ada apa-apa maka disitulah awal proses
pembodohan, karena dengan anggapan itu siswa hanya menjadi bejana kosong yang siap
di isi oleh guru, tanpa melihat bahwa sebenarnya dalam diri kita (siswa) sudah
ada potensi-potensi yang siap diluncurkan ibarat anak panah yang siap
dipanahkan.
Oleh sebab itu kepada semua guru,
tentunya harus memahami potensi-potensi siswa karena jikalau kita sadar dan
faham bahwa Gusti Allah sudah memberikan potensi-potensi dahsyat dalam diri
manusia maka proses yang harus dilakukan oleh guru adalah memberikan
keleluasaan kepada siswa untuk belajar berfikir dalam menghadapi persoalan
hidup di bawah bimbingan dan arahan seorang guru.
Sehingga yang terpenting bagi
guru, bukan hanya siap dengan transfer pengetahuan belaka, namun sikap dan
keahlian juga harus dikembangkan, maka disinilah artinya seorang guru sudah
melakukan pendidikan kepada siswanya bahkan yang tak kalah penting seorang
harus menjadi uswah bagi siswanya.
Menjadi uswah bagi siswa bukan
persoalan spele namun ini adalah persoalan yang maha berat karena setiap ucapan
dan tindakan seorang guru akan selalu dicontoh oleh siswa, di sinilah letak tanggung
jawab dari seorang guru yang selama ini kadang dilupakan sehingga tesis yang
dimunculkan oleh Paulo ternyata didunia modern ini sering terjadi.
Bahkan, yang lebih parah lagi
kita para guru sering melakukan pembelajaran dengan memaksakan siswa nya untuk
tahu dan untuk selalu mengerti, jikalau ini kita lakukan berarti kita sudah
mulai mendidik calon-calon koruptor. selamat merenung.....
Semakin Cerdas Seseorang Makin Sedikit Temannya, Ini
Riset Ilmiahnya!
Apa kamu
termasuk salah satunya?
Semakin
Cerdas Seseorang Makin Sedikit Temannya,
Ini Riset Ilmiahnya!
Tak ada yang menyangkal bahwa kita membutuhkan
teman untuk berkomunikasi dan bertukar pikiran. Namun para ilmuwan nampaknya
akhirnya tak benar-benar sependapat. Mereka malah meragukan, apakah kita benar-benar
membutuhkan komunikasi untuk merasa bahagia dan puas terhadap hidup kita?
Riset
mereka yang melibatkan 15 ribu orang, yang berusia mulai 18 hingga 28 tahun
yang berkomunikasi pada teman-temannya, akhirnya menemui beberapa kesimpulan.
Berikut ini penjabaran selengkapnya!
1.
Tiga kesimpulan utama dari riset ini adalah...
Semakin Cerdas Seseorang Makin Sedikit Temannya,
Ini Riset Ilmiahnya!
Psikolog Satoshi Kanazawa dari London School of
Economics, dan Norman Li dari Universitas Manajemen Singapura, menyimpulkan
tiga hal utama.
a.
Pertama, sebagai pedoman,
orang-orang yang hidup di lingkungan padat tak merasa begitu bahagia.
b.
Kedua, untuk merasakan kebahagiaan,
banyak dari kita yang membutuhkan komunikasi konstan terhadap teman-teman dan
orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Semakin intim dan berkualitas
suatu percakapan, maka akan semakin tinggi kebahagiaan.
c.
Ketiga, orang-orang yang
memiliki kecerdasan tinggi cenderung memiliki berbagai pengecualian untuk tak
membutuhkan teman.
2.
Semakin tinggi level IQ seseorang, maka akan
semakin berkurang kebutuhannya untuk berkomunikasi dengan orang lain
Orang-orang cerdas biasanya tak merasa puas dengan kehidupan
mereka ketika mereka terlalu aktif bersosialisasi. Mereka tak merasa bahagia
ketika mereka terlalu banyak berpesta.
3.
Orang-orang cerdas biasanya memiliki
lingkaran pertemanan yang sempit
Cara
kerja otak orang yang cerdas berbeda dengan orang lain, dan cara mereka
berkomunikasi dengan orang Iain juga akan memiliki perbedaan sehingga hanya
orang-orang tertentu yang mau berteman dengan mereka.
4.
memang susah jadi orang cerdas. Banyak orang yang
menilai seenaknya dengan anggapan bahwa mereka hanya hidup di dunia mereka
sendiri dan tak mau bersosialisasi
Untuk orang-orang dengan
kecerdasan di atas rata-rata, aktivitas sosial rasanya adalah kegiatan yang
jahat dan memaksa. Banyak dari mereka yang selalu menyendiri sehingga hanya
beberapa orang saja yang mau menerima mereka.
5.
Orang yang cerdas biasanya akan lebih tertarik
soal hal-hal yang penting bagi mereka saja, sehingga komunikasi akan mereka
taruh di prioritas nomor sekian
Carol Graham, seorang ilmuwan di
Institusi Brooking yang merupakan ahli
ekonomi kebahagiaan, menganggap bahwa orang-orang cerdas menggunakan waktu
mereka untuk menciptakan target jangka panjang. Mereka menganggap bahwa
kebahagiaan bisa ditemukan dalam berbagai hal, dan interaksi dengan orang lain
bukan termasuk salah satunya.
6.
Mungkin karena mereka menganggap bahwa komunikasi
pertemanan akan mendistraksi mereka dengan aktivitas utama mereka, yang berarti
kebahagiaan mereka akan terganggu
Istilah
ini bernama ‘Savanna Theory of Happiness.’ Yang berarti bahwa manusia bukan hanya sekumpulan DNA
dan gen yang hidup, namun juga tempat dari sekumpulan memori yang diwariskan
turun temurun.
Para
leluhur kita merasa bahwa kebahagiaan tak hanya ditemukan dari teman-teman
saja, namun juga lewat berbagai hal yang kita suka. Pernah kepikiran gak berapa
banyak teman yang Einstein punya?
7. Meskipun
orang-orang cerdas tak membutuhkan teman untuk bahagia, namun mereka tetap
mampu untuk membiarkan beberapa orang untuk masuk ke dalam hidup mereka
Secara umum, mereka sebenarnya mampu untuk
beradaptasi dan bersosialisasi. Namun mereka tak memilih untuk bersusah-payah
bersosialisasi hanya karena mereka ingin dilihat dan dianggap penting. Itulah
kenapa mereka bisa dengan mudah hidup dengan aturan mereka sendiri tanpa harus
beradaptasi dengan lingkungan tertentu.
Kecerdasan mereka memberikan mereka kebebasan untuk tidak bergantung
dengan orang lain sepanjang waktu, sehingga mereka bisa dengan mudah membuat
target dalam hidup.
PSIKOLOGI:
Semakin Banyak Ilmu Yang Anda Miliki
Semakin Banyak Orang Yang Ilmunya Sedikit
Menganggap Anda Sebagai Orang Bodoh
SEBAGIAN
orang dan mungkin banyak orang Indonesia yang perilaku berpikirnya mempengaruhi
caranya berbicara dan berperilaku fisik. Yaitu cara berpikir yang kurang benar
atau bahkan tidak benar. Misalnya, kalau melihat motor memakai kanopi/atap,
maka mereka tertawa terbahak-bahak. Menganggap pemilik motor itu aneh dan
bodoh. Pikir mereka :” Bodoh! Motor kok pakai atap. Kalau hujan ya pakai mantel
hujan atau jaket hujan”. Atau :” Walaupun memakai kanopi motor, tetap saja
kehujanan”. Secara implisit atau eksplisit, mereka menganggap pengemudi motor
berkanopi itu orang bodoh. Padahal, motor berkanopi sudah lama ada di China,
Jepang, Hongkong, Italia, Inggeris, Italia, Swiss dan lain-lain. Bahkan Di
Indonesia juga ada beberapa warga yang memakai motor berkanopi. Mereka yang
menganggap bodoh juga tak bisa membedakan pengertian “kanopi” (anti panas” )
dengan “super kanopi” (anti hujan).
Tuntutlah ilmu walaupun hingga ke negeri China/Tiongkok
Ungkapan itu sering kita
dengar. Maksudnya adalah, di samping kita belajar ilmu agama, maka kita juga
wajib belajar ilmu-ilmu non-agama. Semakin banyak ilmu yang kita pelajari,
semakin luas wawasan berpikir kita. Maka semakin mudah kita memahami masalah.
Semakin mudah kita mencari alternatif solusi. Bisa kita belajar sendiri (dengan
syarat kalau memiliki jiwa otodidak), bisa belajar dengan guru (dengan syarat
gurunya cerdas), bisa dengan cara sekolah atau kuliah (dengan syarat mampu
secara ekonomi) dan bisa dengan cara membaca buku-buku (dengan syarat kalau
kita cerdas).
Gelar bukan tujuan
Menuntut ilmu
sebanyak-banyaknya boleh saja. Tetapi bukan dengan tujuan mendapatkan gelar
sarjana sebanyak-banyaknya kemudian kita pamer-pamerkan ke publik atau untuk
disombongkan. Juga bukan tujuan untuk dianggap sebagai orang hebat atau sok
tahu segalanya. Kepandaiannya tetap terbatas pada ilmu yang dipelajari. Kalau
di luar ilmunya sebaiknya bersikap jujur, kalau tidak tahu harus dikatakan
tidak tahu.
Ilmu untuk diamalkan
“Filsafat padi” memang
mengatakan “semakin berisi semakin merunduk”. Maksudnya, semakin banyak ilmu
janganlah semakin sombong, pamer gelar sarjana dan semacamnya. Filsafaat yang
lebih baik yaitu “filsafat air terjun”, di mana air terjun airnya akan
mengaliri sawah-sawah dan membuat sawah-sawah menjadi subur dan padinya sangat
bermanfaat bagi bangsa dan negara. Maksudnya, orang yang banyak ilmunya wajib
mengamalkan ilmunya. Mengamalkan ilmu bisa sebagai pengajar (guru/dosen),
melalui ceramah, melalui artikel yang dimuat di surat
kabar/majalah/blog/website, menerbitkan buku, meng-upload di Facebook atau
Twitter atau cara-cara lain yang tepat. Tujuannya yaitu, turut mencerdaskan
bangsa.
Semakin banyak ilmu justru dianggap semakin bodoh
Aneh. Memang cara berpikir
sebagian masyarakat kita aneh. Sama dengan uraian pendahuluan yang menganggap
orang memakai kanopi motor adalah orang bodoh. Demikian pula, seringkali
omongan atau tulisan orang yang banyak ilmunya justru sering disalahkan. Bahkan
penulisnya dianggap bodoh. Ini fakta dan penulis artikel ini juga banyak
mempunyai pengalaman yang mendukung anggapan itu bahwa semakin banyak ilmu yang
kita atau Anda miliki, maka orang akan menganggap kita a atau Anda semakin
bodoh.
Orang yang banyak ilmunya dianggap bodoh
Filsuf Yunani,
Plato, pernah mengatakan:
“Orang pandai tahu ciri-cirinya orang bodoh. Sebab, sebelum dia
pandai, dia pernah jadi orang bodoh. Sebaliknya, orang bodoh tidak tahu
ciri-cirinya orang pandai. Sebab, sebelum bodoh, dia tidak pernah menjadi orang
pandai”.
Kenapa orang yang banyak ilmunya kadang-kadang dianggap bodoh?
Mungkin, kadang-kadang, mungkin juga sering, orang yang banyak
ilmunya justru sering disalahkan dan atau bahkan dianggap bodoh. Ada beberapa
penyebabnya.
1.
Karena
mereka ilmunya sedikit
2.
Karena
wawasan berpikirnya sempit
3.
Karena
cara berlogikanya yang dogmatis-pasif
4.
Karena
merasa pendapatnya selalu benar (kebenaran subjektif)
5.
Karena
tidak memahami apa yang ditulis/dikatakan oleh orang ilmunya banyak
Ad.1.Karena mereka ilmunya sedikit
Tidak semua orang yang
ilmunya sedikit suka menyalahkan pendapat orang lain. Tetapi cukup banyak orang
yang ilmunya sedikit menyalahkan pendapat orang lain, walaupun itu mungkin
tidak dikatakan. Mereka menganggap pendapat orang yang ilmunya banyak itu
salah, karena dianggap bertentangan dengan kebenaran dirinya. Mereka menganggap
orang yang banyak ilmunya hanya teoritis saja. Menganggap orang yang banyak
imunya tak punya karya apa-apa. Menganggap teori itu tidak penting. Bahkan di
kalangan masyarakat ada yang berpendapat, sekolah tak perlu tinggi-tinggi, yang
penting bisa baca tulis dan berhitung. Juga ada sebagian masyarakat tidak suka
kalau pendapatnya disalahkan oleh orang yang ilmunya banyak. Oleh karena itu
mereka cenderung “membela diri” dengan cara mempertahankan pendapatnya dan
justru menyalahkan pendapat orang yang banyak ilmunya. Mereka cenderung
berkepribadian “Ngeyelisme”.
Contoh:
Si B seorang sarjana lulusan
satu perguruan tinggi. Apapun yang dikatakan Si A ((sarjana filsafa) tentang
hal-hal yang berhubungan dengan logika, selalu disalahkan Si B. Bahkan dengan
nada sok yakin dan penuh dengan emosi, mengatakan bahwa pendapat Si A salah.
Tentu saja Si A yang paham ilmu filsafat dan paham ilmu logika lebih tahu
dibandingkan Si B yang bukan sarjana filsafat. Si A tahu bahwa Si B tidak bisa
membedakan pengertian “Logika” dan “Ilmu Logika”. Tidak bisa membedakan
pengertian “Logika Awam” atau “Logika Spekulatif” dengan “Logika Akademik” atau
“Logika Ilmiah”.
Ad.2.Karena wawasan berpikirnya sempit
Wawasan berpikir sempit
bukan berarti orang yang ilmunya sedikit. Yang dimaksud berwawasan sempit
adalah orang-orang yang tidak mengakui adanya alternatif lain. Tidak mengetahui
adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Tidak sadar kalau ada
probabilitas-probabilitas yang lebih benar. Jadi, cara berpikirnya seperti
katak dalam tempurung.
Contoh:
Si A paham Linguistik (Ilmu
Bahasa). Tahu bagaimana cara membuat gelar sarjana yang benar. Tahu mana gelar
yang salah dan mana gelar yang salah. Tahu bagaimana caranya memakai gelar
sarjana yang salah. Si A mengatakan gelar Ir, Dra,BcHk, SPd, Msi adalah
gelar-gelar yang salah. Si A juga mengatakan memakai gelar S1 dan S2 sekaligus
(misalnya SH,MH) merupakan cara memakai gelar yang salah. Si A juga memberikan
argumentasinya yang ilmiah. Namun Si B yang wawasan berpikirnya sempit
menyalahkan pendapat Si A. Katanya, memakai gelar terserah pribadi masing-masing.
Salah atau benar tidak urusan, yang penting orang lain tahu maksudnya. Gelar
yang dipakainya sesuai yang tertulis di ijasah. Dan argumenttasiargumentasi
lainnya yang tidak ilmiah dan tidak rasional.
Ad.3.Karena cara berlogikanya yang dogmatis-pasif
Cara berlogika
dogmatis-pasif yaitu cara berlogika yang tidak bisa berubah. Tidak bisa
menerima pendapat orang lain walaupun pendapat orang lain benar atau lebih
benar. Mereka tetap beranggapan bahwa pendapatnyalah yang benar. Bahkan mereka
merasa benar karena mengikuti apa kata gurunya/dosennya. Mereka menganggap
benar karena menggunakan cara berlogika yang salah.
Contoh:
Si A yang paham Psikologi
mengatakan, menilai orang itu jangan dari agamanya, ibadahnya,qatam Al
Qur’annya, kekayaannya, gelar sarjananya, gelar hajinya atau pangkatnya, tetapi
nilailah perilakunya. Walaupun Si B seorang sarjana (bukan sarjana psikologi)
atau tidak paham psikologi, selalu mengatakan bahwa ibadah itu perlu, qatam Al
Quran itu perlu. Si B tidak memahami maksud Si A, bahwa perilaku yang baik jauh
lebih penting daripada beribadah atau qatam Al Quran. Maksudnya, ada juga orang
yang rajin beribadah, qatam Al Quran, sudah haji, tetapi melakukan korupsi
sapi. Si B menganggap Si A tidak menghargai rajin beribadah dan qatam Al Qur’an,
padahal bukan itu maksud Si A. Pendapat yang salah itu semata-mata karena cara
berlogika Si B yang dogmatis-pasif. Tidak mau menerima kebenaran dari orang
lain. Menganggap kebenaran agama sebagai satu-satunya kebenaran.
Ad.4.Karena merasa pendapatnya selalu benar (kebenaran subjektif)
Memang ada orang yang egois.
Individualis. Akibatnya cara berpikirnya subjektivisme. Apa yang dianggap tidak
cocok dengan kepentingan atau seleranya, akan dianggap salah. Tetapi, kalau ada
informasi atau pendapat orang lain yang dianggap menguntungkan bagi dirinya
atau sesuai seleranya, maka pendapat itu dianggap benar. Pokoknya yang
dijadikan tolok ukur kebenaran adalah kepentingan pribadinya.
Contoh:
Boleh dikatakan bahwa 100%
orang—orang merasa bahwa pendapatnyalah yang benar. Boleh-boleh saja. Di dalam
setiap dialog, diskusi, tukar pikiran, proses membaca, seminar, perdebatan,
berbeda pendapat, setiap orang pastilah merasa pendapatnyalah yang benar.
Bahkan berani mengatakan pendapat orang lain yang salah dan pasti salah. Boleh-boleh
saja merasa benar. Tetapi harus dipahami bahwa kebenaran itu ada dua macam.
Yaitu, Kebenaran Subjektif dan Kebenaran Objektif. Kebenaran Subjektif yaitu
kebenaran berdasarkan Logika Awam atau Logika Spekulatif yang mempunyai sifat
baanyak salahnya daripada benarnya. Sedangkan Logika Akademik atau Logika
Ilmiah adalah logika yang banyak benarnya daripada salahnya, sebab cara
berlogikanya berdasarkan “rumus-rumus” logika yang berlaku sejak jaman Yunani
hingga Kiamat Qubro nanti.
Ad.5.Karena tidak memahami apa yang ditulis/dikatakan oleh orang yang
ilmunya banyak
Disadari atau tidak, orang
yang ilmunya banyak seringkali menggunakan istilah-istilah yang jarang didengar
atau dipahami oleh orang yang ilmunya sedikit. Bahkan kalimat-kalimatnya
dianggap aneh dan sulit dipahami. Merekapun mengambil kesimpulan bahwa apa yang
dikatakan oleh orang yang banyak ilmunya dianggap sebagai retorika saja.
Dianggap hanya bermain kata-kata saja. Dianggap memutarbalikan fakta atau
kebenaran. Apa yang bertentangan dengan pendapat mereka yang berlaku secara
tradisi dan turun temurun, dianggap salah. Bahkan orang yang ilmunya banyak
dianggap sebagai orang yang “pinter tapi keblinger”.
Contoh:
Si A juga seorang lulusan
fakultas sastra yang paham soal satra dan bahasa. Mengatakan bahwa di dunia ini
tidak ada fatwa haram golput. Bahkan di Indonesia juga tidak ada fatwa haram
golput. Yang ada adalah fatwa tentang hak pilih, yaitu setiap umat Islam wajib
memilih pemimpin yang memenuhi syarat. Sekali lagi: Yang memenuhi syarat. Logikanya,
kalau tidak ada yang memenuhi syarat tentunya golput tidak bisa dikatakan
haram, sejau masih ada orang lain yang menggunakan hak pilihnya. Namun Si B
mengatakan bahwa memilih pemimpin itu wajib.Berarti golput itu haram.Titik.
Padahal fatwa MUI ada komanya, yaitu apabila ada calon pemimpin yang memenuhi
syarat. Jelaslah Si B tidak mempunyai kemampuan untuk memahami fatwa dari MUI
tersebut.
Kenapa ada anggapan yang
salah terhadap orang yang punya banyak ilmu?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menganggap salah pendapat
orang yang banyak ilmunya. Bahkan menganggapnya sebagai orang bodoh yang
bisanya cuma berteori saja. Antara lain:
v Sistem pendidikan yang tidak berbasiskan
Logics
v Sedikitnya pengetahuan atau ilmu
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki.
v Menganggap selesai sekolah/kuliah, maka
tidak perlu belajar lagi
v Cara berlogika yang salah
v Pribadi egoistis-individualistis
(ngeyelisme)
v Lantas bagaimana solusinya?
v Solusi bagi orang-orang yang ilmunya
sedikit antara lain:
v Banyak membaca buku-buku
v Menyadari adanya kemungkinan lain yang
benar dan lebih benar
v Kalau tidak mengerti sebaiknya
banyak-banyak bertanya
v Menghindari sikap ngeyelisme
v Mau mengubah cara berlogikanya dari
dogmatis-pasif menjadi dogmatis-aktif (mau dan sportif mengakui kebenaran yang
dikatakan orang lain) dan tidak terburu-buru menilai atau mengambi kesimpulan.
Catatan:
1. Bukan maksud penulis meremehkan orang
yang ilmunya sedikit, melainkan ingin mengatakan bahwa orang yang ilmunya
sedikit seringkali kurang bisa memahami pendapat orang yang ilmunya banyak.
Bisa dimaklumi.
2. Orang yang banyak ilmunya juga belum
tentu orang pandai. Sebab, orang pandai adalah orang yang suka berkarya dan
bisa memecahkan masalah secara efektif dan efisien dengan cara yang benar.
Banyak ilmu memang banyak benarnya jika bicara tentang ilmunya. Tetapi, banyak
ilmu saja tidak cukup kalau tidak didukung penguasaan dan pemahaman tentang
Ilmu Logika, baik Logika Formal maupun Logika Material.
Semoga bermanfaat.
PSIKOLOGI:
Beda Bodoh Relatif dan Bodoh Permanen
PLATO pernah berkata :
” Orang yang pandai, bisa membaca orang yang dihadapi adalah
orang bodoh. Sebab, sebelumnya dia pernah menjadi orang bodoh. Tetapi, orang
yang bodoh tidak akan pernah tahu bahwa orang yang dihadapinya adalah orang
pandai, sebab dia sebelumnya belum pernah menjadi orang pandai“. Dalam
kaitannya itulah, artikel ini dibuat. Sebab, pada dasarnya ada orang yang bodoh
relatif dan ada orang yang bodoh permanen.
Bodoh relatif
Bodoh relatif adalag bodoh sementara. Hal
ini bisa disebabkan sedikitnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. banyak hal
yang tidak dipahaminya. Seringkali apa yang dikatakan merupakan
pernyataan-pernyataan yang salah. Bahkan pengaruhnya terhadap caranya
berlogika, sering salah. Secara umum, bodoh relatif dimiliki orang yang IQ-nya
normal atau “average”. Kalau dalam bentuk angka kira-kira punya IQ 60. Bodoh relatif juga bisa terpengaruh
ajaran gurunya, dosennya, guru agamanya atau ajaran atau pendapat orang lain
yang dianggapnya benar padahal menyesatkan. Dan dia tidak tahu kalau itu
menyesatkan.
Namun, orang yang mempunyai kebodohan
relatif bisa berubah secara bertahap. Yaitu, apabila mempunyai cara berpikir
dogmatis-aktif. Artinya, tidak alergi terhadap pendapat-pendapat atau
teori-teori baru yang setelah dipelajari ternyata pendapat atau teori itu
benar. Hal ini juga dimungkinkan apabila orang bodoh relatif mau menambah
pengetahuannya dengan cara membaca buku-buku, surat kabar, artikel dan mau
menerima pendapat dari orang yang lebih pandai dari dirinya. Juga, mempunyai
sifat keterbukaan untuk menerima pendapat orang lain. Tidak mudah menyalahkan
pendapat orang lain. Suka bertanya kepada orang lain yang dianggapnya memiliki
kepandaian tertentu.
Bodoh relatif tidak hanya dimiliki orang
yang berpendidikan rendah. Mereka yang sudah bergelar S1,S2 dan S3 juga bisa
terkena sikap bodoh relatif ini. Beruntunglah, dia mau menerima perbedaan
pendapat yang benar ataupun lebih benar. Dia biasanya juga suka bertanya
apabila suatu saat ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
Solusinya
Bodoh relatif bisa ditanggulangi apabila
yang bersangkutan mau selalu bertanya apabila tidak mengerti, mau menambah
pengetahuannya dengan cara-cara membaca banyak buku yang bermanfaat dan mau
menerima perbedaan pendapat dan tidak
bersikap “ngeyel”
Bodoh permanen
Bodoh permanen boleh dikatakan bodoh abadi.
Artinya, sangat sulit untuk menjadi tidak bodoh. bahkan, bisa jadi sampi akhir
hidupnya tetap bodoh. Hal ini disebabkan karena IQ-nya di bawah standar atau di
bawah rata-rata. Kalau dalam bentuk angka, kira-kira IQ-nya 59 atau kurang.
Format logikanya atau kualitas otaknya memang tidak bisa berkembang. Apa yang
diyakini benar itulah yang benar. Sulit menerima pendapat orang lain yang lebih
pandai. Walaupun membaca banyak buku, tetapi selalu salah menafsirkan arti buku
tersebut. Kalau membaca status di Facebook, selalu diartikan secara salah.
Tentu, juga disebabkan sedikitnya pengetahuan yang dimiliki. Pada umumnya orang
yang bodoh permanen mempunyai ciri-ciri mempertahankan pendapatnya yang salah
secara emosional. Atau, biasa disebut sikap “ngeyel”. Dia cenderung tidak mau
bertanya kepada orang lain yang lebih pandai karena dia akan merasa bodoh kalau
bertanya kepada orang lain yang lebih pandai. Bodoh permanen biasanya justru
suka menyalahkan orang lain. Suka mencela orang lain dan suka menyerang pribadi
orang lain. Ironisnya, justru suka membodoh-bodohkan orang lain.
Bodoh permanen tidak hanya dimiliki orang
yang berpendidikan rendah. Mereka yang bergelar S1,S2 dan S3 juga bisa mengalami
bodoh permanen. Pertanyaannya, kenapa orang bodoh permanen bisa sampai dapat
gelar S1,S2 dan S3? Sudah menjadi rahasia umum bahwa mendapatkan gelar di
Indonesia mudah. Asal ada uang, dijamin dapat gelar sarjana. Banyak perguruan
tinggi “asal bayar”. Bahkan banyak pihak-pihak menjual gelar sarjana, baik
secara legal maupun secara ilegal. Itulah sebabnya, walaupun sudah bergelar
S1,S2 dan S3, ketika nasib baiknya dia ditunjuk menjadi menteri, maka hasil
kerjanya tidak signifikan. Tidak ada kemajuan. Sarjana yang mengalami kebodohan
permanen seringkali enggan menerima pendapat yang lebih benar. Masih
mempertahankan gelar sarjananya yang salah (Ir,Dra,SmHk,Drs atau memakai dua
gelar sekaligus SH,MH).
Solusi
Bodoh permanen apabila karena IQ-nya di atas
rata-rata sangat sulit dan bahkan tidak bisa ditanggulangi. Seumur hidupnya
akan tetap bodoh. Tetapi, kalau bodoh permanennya karena sikapnya yang kaku,
bisa saja berubah kalau mau mengubah caranya berpikir dari dogmatis-pasif ke
dogmatis-aktif. yaitu, sering bertanya jika tidak mengerti dan mau menerima
pendapat orang-orang lain yang dianggapnya lebih pandai.
Kesimpulan
1. Bodoh relatif maupun bodoh permanen bisa kita dapati tidak
hanya di kalangan masyarakat yang berpendidikan rendah. Mereka yang
berpendidikan S1,S2 dan S3 juga bisa mengalami kebodohan relatif maupun
permanen. Bahkan sebuah negara tidak akan bisa maju secara signifikan kalau
presiden dan
semua
menterinya tergolong bodoh permanen.
2.
Bodoh relatif maupun
bodoh permanen biasanya mempunyai ciri yang sama : suka “ngeyel”.
3.
Hampir tidak ada orang
bodoh merasa atau mengakui dirinya bodoh.
Semoga menambah wawasan berpikir Anda.
Komentar
Posting Komentar